Perlindungan yang Diperlukan pada Startup Fintech

Financial technology (fintech) merupakan sebuah bisnis startup yang semakin populer di Indonesia. Fintech menjadi sektor bisnis dengan jumlah investasi terbanyak kedua di Indonesia setelah e-commerce. Perkembangan bisnis fintech di Indonesia juga didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dan Bank Indonesia (BI).

Data dari OJK menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2019, jumlah penyelenggara fintech terdaftar dan berizin sebanyak 127 perusahaan. Sementara kajian Insitute Development of Economics and Finance (INDEF) menyebutkan bahwa industri fintech mampu meningkatkan perekonomian Indonesia secara makro.

Meski pertumbuhan fintech terus meningkat, namun terdapat beberapa risiko bagi para pelaku bisnis yang perlu diperhatikan. Antara lain sebagai berikut:

  • Risiko strategis, muncul karena terjadi kerugian yang disebabkan karena recana bisnis tidak berjalan dengan baik atau ketidakmampuan perusahaan memanfaatkan peluang bisnis.
  • Risiko regulasi, meliputi risiko kepatuhan (compliance) terhadap aturan dan kebijakan seperti kerahasiaan data, pendanaan terorisme, dan pencucian uang.
  • Risiko operasional, ini merupakan penyebab utama sebuah fintech mengalami kebangkrutan.
  • Risiko cyber, berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kegagalan sistem yang meliputi phising, hacking, dan kegagalan software maupun hardware.

Salah satu faktor risiko penting lain yang mempengaruhi kesuksesan startup adalah SDM (Sumber Daya Manusia) – berdasarkan survei dari Forbes, 90% startup di dunia gagal mengembangkan startupnya karena faktor SDM. Karena, faktor tersebut memiliki peranan penting untuk membantu perjalanan perusahaan startup untuk sukses.

Salah satu cara untuk meminimalkan risiko kerugian finansial adalah dengan memiliki asuransi bisnis. Setiap bisnis memiliki risiko yang unik dan berbeda sesuai dengan model bisnis dan industri. Pengelolaan manajemen risiko yang tepat dapat membantu perusahaan startup untuk mengetahui risiko dan cara yang harus dilakukan jika risiko terjadi. Mulai dengan melakukan identifikasi risiko, mengukur tingkat risiko dan ketahanan perusahaan terhadap risiko tersebut dalam mencapai target sasaran strategis atas kondisi yang dapat merugikan perusahaan.

Dalam melakukan pengelolaan risiko tersebut, perusahaan fintech disarankan untuk bekerjasama dengan tim yang profesional dan berpengalaman seperti Marsh Indonesia. Selain itu, Marsh juga akan membantu mengelola risiko manajemen keuangan termasuk risiko cyber untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan mengendalikan risiko keuangan yang mungkin bisa terjadi.

Tujuan dari manajemen risiko keuangan adalah untuk meminimalkan risiko kerugian finansial yang disebabkan karena kejadian tidak terduga. Untuk startup fintech, manajemen risiko keuangan terdiri dari fungsi pengawasan, pengendalian, dan pengelolaan.

Source:

 

Leave a Reply