Wakaf Adalah Ibadah yang Istimewa Bagi Seorang Muslim

Realisasi ibadah kepada Allah SWT bagi seorang muslim adalah dengan mempergunakan harta benda yang dimilikinya untuk kemaslahatan umat melalui wakaf. Para ahli fiqih sepakat bahwa anjuran wakaf adalah bersandar pada sabda Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Muslim mengenai sedekah jariyah.

Bahwa ada tiga hal yang masih akan terus mengalir ketika manusia sudah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah, doa anak yang soleh, dan ilmu yang bermanfaat. Sedekah jariyah yang dimaksud pada hadist tersebut diyakini merupakan ibadah wakaf.

Wakaf tentu saja berbeda dari filantropi Islam yang lain seperti zakat dan sedekah. Bedanya, wakaf memberikan hartanya untuk dikelola oleh nazhir yang mana hasil pengelolaannya akan dipergunakan untuk kebajikan.

Pada dasarnya, wakaf adalah menahan asalnya, mengalirkan hasilnya. Harta benda yang diwakafkan tidak boleh berkurang atau diperjual belikan, diwariskan, atau dihibahkan. Sehingga harus tetap utuh tanpa berkurang sedikitpun. Berbeda dengan zakat atau sedekah yang bisa langsung dibagikan pada yang membutuhkan.

Syarat-syarat berwakaf

Sama seperti ibadah yang lain, wakaf juga memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 mengenai wakaf, ada enam syarat yang harus ada agar wakaf tersebut sah. Yaitu:

1. Pemberi wakaf

Syarat utama dari wakaf adalah harus adanya wakif atau pewakaf. Pewakaf ini boleh perseorangan, lembaga hukum, maupun organisasi. Untuk menjadi wakif, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu dewasa, berakal sehat, pemilik sah harta wakaf, dan tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

2. Nazhir

Dalam ibadah wakaf, keberadaan nazhir sangatlah penting mengingat tugas dan tanggung jawab dari pengelola wakaf sangat besar. Nazhir bisa berupa perseorangan, badan hukum, dan juga organisasi. Menjadi nazhir juga tidak sembarangm harus memenuhi syarat, yaitu beragam Islam, Warga Negara Indonesia, dewasa, amanah, tidak terhalang melakukan perbuatan hukum, mampu secara jasmani dan rohani.

3. Harta benda wakaf

Tentu jika ingin melaksanakan ibadah ini, adanya harta benda yang diwakafkan menjadi sebuah keharusan. Harta wakaf bisa berupa benda bergerak dan tidak bergerak dengan syarat harus tahan lama, bernilai, tidak hanya sekali pakai saja.

4. Tujuan harta benda wakaf

Syarat lainnya adalah harus ada peruntukan harta benda wakaf tersebut untuk mencapai fungsi dan tujuan tertentu sesuai dengan keinginan pewakaf. Tujuan wakaf bisa meliputi sarana ibadah, kegiatan dan prasarana pendidikan dan kesehatan, kemajuan ekonomi masyarakat, bantuan bagi yang membutuhkan seperti fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, dan sebagainya.

5. Ikrar wakaf

Ikrar wakaf penting untuk ada ketika melaksanakan ibadah wakaf. Ikrar ini berupa pernyataan kehendak dari wakif dalam mewakafkan hartanya. Ikrar ini dilakukan pada nazhir yang disaksikan oleh minimal dua orang saksi yang dinyatakan secara lisan dan dituangkan secara tulisan berupa akta ikrar wakaf.

6. Jangka waktu wakaf

Syarat terakhir wakaf adalah harus dijelaskan jangka waktunya. Ada ulama berpendapat zatnya harus kekal, namun ada juga yang berpendapat bahwa wakaf tersebut diperbolehkan jika dibatasi waktunya.

 

Leave a Reply