Rahasia Prinsip Kalkulasi Risiko yang Dipegang Sukanto Tanoto

, , Leave a comment

Pengusaha Sukanto Tanoto tercatat sebagai pionir berbagai bidang bisnis sumber daya di Indonesia. Keberhasilannya itu dikatakannya tak lepas dari kemampuannya mengkalkulasi risiko.

Sukanto Tanoto mendapat julukan sebagai Raja Sumber Daya. Predikat itu diperolehnya berkat kesuksesannya di Royal Golden Eagle (RGE). Ia mampu mendirikan dan mengubahnya dari perusahaan skala lokal menjadi korporasi kelas internasional.

Bayangkan saja, dulu pada awal berbisnis, Sukanto Tanoto hanya memiliki tiga karyawan. Ia pun hanya mengelola toko onderdil mobil dan minyak di sebuah rumah toko berlantai dua. Namun, kini, ia menjadi Chairman RGE, sebuah perusahaan multinasional dengan aset hingga 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan sebanyak 60 ribu orang.

Bersama RGE, Sukanto Tanoto menekuni berbagai bidang bisnis berbeda. Ia mengelola anak-anak perusahaan yang beroperasi di sektor kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, serta minyak dan gas.

Lebih menarik, Sukanto Tanoto tercatat sebagai pionir di berbagai bidang bisnis tersebut. Setidaknya ia menjadi perintis bisnis kelapa sawit dan pulp & kertas di Indonesia.

Dalam sebuah wawancara, Sukanto Tanoto ditanya tentang rahasianya memiliki kemampuan sebagai pionir di berbagai bidang bisnis. Selain itu, ditanyakan pula karakteristik orang seperti apa agar bisa seperti itu. Sukanto Tanoto kemudian memberi jawaban menarik. Menurutnya orang itu harus pintar menakar risiko dan memperhitungkannya.

Risiko itu memang selalu ada, apalagi di dunia bisnis. Namun, Sukanto Tanoto menilai hal tersebut tidak boleh menjadi penghalang. Risiko harus ditakar supaya bisa diantisipasi.

Pria kelahiran Belawan ini memiliki penjelasan lebih detail tentang kalkulasi risiko. Ia menyebut hal itu sebagai prinsip yang sederhana sekali sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja.

“Apa yang saya maksud dengan risiko yang terkalkulasi? Pendekatan yang saya ambil simpel. Pertama-tama, sebagai pionir, saya selalu mencari tahu peluang untuk berinvestasi di bidang bisnis baru. Ketika tertarik dengan satu bidang bisnis khusus, saya akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang hal tersebut,” ujarnya.

Data dan informasi yang diperoleh dijadikan bahan untuk dipelajari. Dari situ, Sukanto Tanoto akan mengetahui apakah ada bisnis yang menarik atau tidak di bidang tersebut. Ketika semakin tertarik, ia kemudian melakukan langkah berikutnya.

“Saat riset yang saya lakukan membuat saya melihat potensi bagus di bisnis tersebut, saya kemudian berbicara dengan mereka yang skeptis di bidang ini,” katanya.

Tahapan ini dinilai amat vital. Sebab, Sukanto Tanoto memandang berbicara dengan mereka yang meragukan bakal memberikan nilai tersendiri.

“Satu-satunya cara untuk mendapat nilai lebih adalah bertanya kepada pihak yang skeptis terhadap proyek tersebut. Mereka tidak mau melakukannya. Mereka tidak berani menjalaninya. Sebagai entrepreneur, Anda wajib berbicara dan bertanya kepada mereka. Tanyakan apa kekhawatirannya? Apa yang bisa membuatnya buruk?,” kata Sukanto Tanoto.

Dari situ, pengusaha bisa mendapat masukan yang seimbang. Selain prospek yang ditawarkan, ia juga bisa tahu risiko yang ada di baliknya. Ini akan membuatnya bisa menakar segalanya sehingga mampu mengambil putusan terbaik.

Pengusaha yang baik juga diharapkan oleh Sukanto Tanoto mau berpikir di luar kebiasaan. Ini dinilainya penting supaya bisa memiliki perspektif berbeda.

“Tanyakan kepada diri sendiri dengan berpikir di luar kebiasaan. Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah ini? Siapa yang punya problem seperti ini? Apa skenario terburuknya? Anda harus bertanya ke banyak orang,” ujarnya.

Langkah ini wajib dilakukan untuk memperkaya pandangan yang dimiliki. Akibatnya, segala sesuatu yang mungkin terjadi telah diantisipasi dengan baik. Ini yang menjadi salah satu dasar dalam mengalkulasi risiko.

SAATNYA MENGAMBIL KEPUTUSAN

Setelah berbagai informasi diperoleh, saat yang menentukan pun tiba. Pebisnis harus mengambil langkah. Mereka mesti mengambil keputusan setelah menimbang berbagai data hasil riset yang didapat.

Saat itu merupakan momen krusial. Pebisnis akan menentukan terjun atau tidak ke satu bidang. Kadang kala muncul keraguan. Hasil riset juga belum tentu memberikan jawaban pasti. Namun, kata Sukanto Tanoto, entrepreneur tetap harus bertindak.

Sekali lagi, risiko memang tidak bisa dihindari. Namun, karena telah ditakar, pebisnis pasti telah tahu apa yang menantinya jika mengambil sebuah keputusan. Jika memang riskan, namun tidak sampai menghancurkan bisnis, Sukanto Tanoto menyarankan untuk mengambil langkah tersebut.

“Sesudah melakukan semua investigasi dan kalkulasi tersebut, hadir saatnya untuk mengambil keputusan dengan memperhitungkan risiko yang akan muncul. Pastikan Anda melangkah tanpa memengaruhi perusahaan secara keseluruhan,” kata Sukanto Tanoto.

Pengusaha yang pernah bercita-cita menjadi dokter ini tidak takut melakukan kesalahan. Ia sadar bahwa dirinya hanya manusia belaka yang tidak luput dari salah. Bahkan, Sukanto Tanoto tak malu mengakui berbagai kekeliruan yang dilakukannya.

Namun, kesalahan yang dia buat tidaklah fatal. Ia malah bisa mengambil pelajaran dari sana untuk berbuat yang lebih baik.

“Menyesali kesalahan selalu lah. Itu menjadi pelajaran untuk tidak terulang lagi. Salah kecil. Salah besar. Selalu ada. Jangan buat kesalahan fatal sampai akhirnya tidak bisa kembali,” katanya.

Sukanto Tanoto mencontohkan pengalaman merintis bisnis pulp dan kertas. Ia pernah membangunnya di sekitar Danau Toba di Sumatera Utara. Namun, karena belum terlalu paham, ia kurang memperhatikan berbagai aspek dengan detail. Akibatnya pengolahan limbah perusahaannya tidak maksimal.

Kejadian itu akhirnya dijadikan pelajaran. Sukanto Tanoto membawa pengalaman sebelumnya sebagai pelajaran. Ia menjadikannya dasar untuk membangun perusahaan pulp dan kertas yang lebih baik di Pangkalan Kerinci, Riau.

Hasilnya kini terlihat. APRIL Group yang didirikannya di Riau menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terkemuka di Asia. Per tahun, mereka mampu menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton dan kertas sebanyak 1,15 juta ton.

Andaikan saja ketika itu Sukanto Tanoto menyerah, maka pencapaian tersebut tidak akan bisa diraih. Tekad keras ini pula yang disarankannya untuk dimiliki oleh setiap pengusaha. Tidak memilikinya bakal membuat kesuksesan sukar diraih.

Pengusaha yang baik malah disebut oleh Sukanto Tanoto untuk berani melawan arus. Ia tidak mudah menyerah meski diragukan oleh banyak pihak. Sebab, pebisnis itu lebih tahu karena sudah melakukan riset mendalam sebelumnya.

“Hal terpenting adalah Anda tidak berhenti ketika orang lain meminta Anda menghentikannya. Semakin skeptis dan negatif seseorang, Anda bertambah bisa belajar banyak darinya,” kata ayah empat orang anak tersebut.

Sebaliknya Sukanto Tanoto malah akan segera bertindak tanpa menunda-nunda waktu lagi. Asalkan sudah yakin, ia bakal mengambil keputusan. Pasalnya, kesigapan dan kecepatan dalam dunia bisnis memiliki arti besar.

Meski begitu, bertindak sigap berbeda dengan terburu-buru. Langkah cepat yang tepat ialah aksi kilat yang sebelumnya sudah didasari hasil riset dan investigasi mendalam.

“Saya akan bertindak cepat ketika yakin bahwa saya berada di trek yang tepat,” ujarnya.

Lagi-lagi, kalkulasi risiko amat penting. Tidak aneh Sukanto Tanoto menganjurkannya kepada setiap pengusaha agar mempraktikannya.

 

Leave a Reply